Kamis, 12 Maret 2015

Asal mula penulisan Al-Quran Zaman Rosul



Sedikit akan saya bahas mengenai asal mula penulisan Al-Quran bagi kalian yang Kepo Ilmu..


A.    TRADISI HAFALAN AL-QURAN


Di dalam kamus ‘ulum Al-Quran dikenal istilah Jam’u Al-Quran. Istilah ini menurut Dr.  Shubhiy Shahih dalam mabahits fi ‘ulum Al-Quran mempunyai dua pengertian, yaitu Al-hifzhu (menghafal) dan Al-kitabah yakni  Al-Quran pada benda-benda yang bisa ditulis. Uraian singkat berikut ini akan mengulas kedua jenis jam’u Al-Quran tersebut.


Tau gak sih, Ada tiga tahap penting yang dilalui Rosulullah ketika menerima wahyu Al-Quran. Pertama, tahap penghimpunan Al-Quran dibenak Rosulullah Saw,. Yakni penghapalan. Kedua, tahap pembacaan ayat-ayat Al-Quran, artinya Jibril membacakan ayat-ayat yang baru saja disampaikan dihadapan Rosulullah Saw. Ketiga, tahap penjelasan atau tahap Bayan, pada tahap yang terakhir ini, Rosulullah Saw. Diberitahukan pengertian atau maksud ayat yang beliau terima.


Al-Quran tidak hanya untuk Rosulullah saja, tetapi untuk semua orang terutama orang yang  bertakwa, langkah Rosulullah Saw. Selanjutnya adalah Tabligh, yakni menyampaikan Al-Quran kepada para sahabat tanpa kecuali.


Rosulullah Saw. Bersabda “Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.”


Kalimat Rosulullah ini ternyata menjadi semacam alat pemicu yang mampu menggerakan kaum muslimin untuk berlomba-lomba menguasai Al-Quran sebanyak mungkin tidak sedikit dianatara sahabat Rosullulah yang menguasai keseluruhan ayat Al-Quran dalam tempo yang relatif singkat. Menurut Al-Qurthubiy, di peristiwa bi’r Ma’unah saja, terdapat sekitar tujuh puluh orang Hafiz yang gugur. Bila jumlah hafiz yang gugur saja sebanyak itu, dapat dibayangkan berapa banyak hafiz Al-Quran yang dimililki kaum muslimin pada waktu itu. Karna memang para sahabat berlomba-lomba menguasai Al-Quran baik bcaan maupun tulisan, mereka tak ingin kalau sampai ada ayat Al-Quran yang tidak mereka kuasai, misalnya Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, ubai bin Ka’ab, selain emapat sahabat Rosulullah yang sempat menduduki kursi Khalifah, atau yang biasa disebut “Khulafaur Rasyidin” yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali.


Imam Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Salam dalam kitabnya, Al-Qiraat, menyebut sejumlah sahabat yang menguasai Al-Quran sepenuhnya, mereka adalah sebagai berikut.


1.      Dari kalangan Muhajirin :      Abu Bakar                                           


Umar bin Al-Khathab


Usman bin Affan


Ali bin Abi Thalib


Thalhah


Sa’d


Ibnu Mas’ud


Khudzaifah


Salim


Abu Hurairah


Abdullah bin Sa’ib


Ibnu Zubair


Abdullah bin Umar


Abdullah bin Abbas


Amr bin Al-‘ash


Muawiyyah bin Abi Sufyan




2.      Dari kalangan Anshar:            Ubai bin Ka’ab


Abu Darda


Zaid bin Tsabit


Anas bin Malik


Ubaidillah bin Al-Shamit


Mu’az alias Abu Hulaimah


Mujamma bin Jariah


Fadhalah bin Ubaid


Maslamah bin Makhallad


            Minat mempelajari Al-Quran dikalangan sahabat Rasulullah Saw. Demikian tingginya hal ini terlihat pada Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin Al-ash. Rosulullah menurut Riwayat itu, bersabda “Baca (khatamkanlah) sekali dalam setiap bulan” rupanya bagi Abdullah yang mempunyai semangat membara untuk menuasai Al-Quran dengan baik merasa satu bulan sekali Khatam baginya tidak cukup. Masih terlalu sedikit. Abdullah kemudian mengatakan pada Nabi Muhammad., “Sesungguhnya aku mendapati diriku merasa kuat.” Melihat kesanggupan Rosulullah Abdullah, Rosulullah Saw berpesan kepadanya  “bacalah (tamatkanlah) dalam dua puluh malam” dua puluh malam pun masih terlalu lama untuk menamatkan Al-Quran yang sangat ia minati itu, Abdullah lagi-lagi menyatakan energinya masih ia rasakan lebih bila hanya menamatkan Al-Quran sekali setiap dua puluh malam, sekali lagi, Rosulullah Saw. Berpesan : “bacalah (tamatkanlah) dalam setiap tujuh hari sekali, jangan lebih dari itu”


            Generasi sahabat menurut Syech Muhammad bin Muhammad bin Muhammad  lebih banyak mengandalkan hafalan dari pada tulisan, artinya mereka lebih ska menghafalkannya, hal ini llebih dimengerti mengingat pada zaman itu tidak banyakorang yang mampu baca tulis, pebggunaan alat tulis menulis masih jauh dari popular. Selain itu dengan menghafal ayat Al-Quran yang mereka hafal segere mereka pakai untuk bacaan Sholat, meskipun demikian, tidak berarti penulisan Al-Quran belum dikenal generasi mereka.


B.     PENULISAN AL-QURAN PADA ZAMAN ROSULULLAH


Pada masa ini Rasulullah mengangkat beberapa orang untuk dijadikan sebagai jurutulis, diantaranya Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Zaid bin Tsabit dan lain-lain. Tugas mereka adalah merekam dalam bentuk tulisan semua wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Alat yang digunakan masih sangat sederhana.


Para sahabat menulis Al-Qur’an pada :


a.    Ujung pelepah kurma (al-usb)


b.    Batu-batu tipis (al lakhaf)


c.    Kulit binatang/ pohon (ar-riqa’)


d.   Pangkal pelepah kurma yang tebal (al-karanif)


e.    Tulang belikat yang telah kering (al-aktaf)


f.     Kayu tempat duduk pada unta (al-aktab)


g.    Tulang rusuk binatang (al-adhla’)


Faktor yang mendorong penulisan Al-Qur’an pada masa nabi adalah


1)        Mem-back up hafalan yang telah dilakukan nabi dan para sahabatnya.


2)        Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna. Bertolak dari hafalan para sahabat saja tidak cukup karena terkadang mereka lupa atau sebagian dari mereka ada yang sudah wafat. Adapun tulisan tetap terpelihara walaupun tidak ditulis pada satu tempat.


Untuk menghindari kerancuan akibat bercampuraduknya ayat-ayat Al-Qur’an dengan yang lainnya, misalnya hadits Rasulullah, maka beliau tidak membenarkan seorang sahabat manulis apa pun selain Al-Qur’an. Kegiatan itu didasarkan pada sebuah hadist Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, “Janganlah kamu menulis sesuatu yan berasal dariku, kecuali Al-Qur’an. Barang siapa telah menulis dariku selain Al-Qur’an, hendaklah ia menghapusnya.” Larangan ini dipahami oleh Dr. Adnan Muhammad Zarzur sebagai suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk menjamin nilai akurasi Al-Qur’an. Setiap kali turun ayat Al-Quran.


   Rasulullah memanggil jurutulis wahyu. Kemudian Rasulullah berpesan, agar meletakkan ayat-ayat yang turun itu disurat yang beliau sebutkan.


Cara yang telah dilakukan Rasulullah dalam rangka memperhebat dan memperlancar penulisan Al-Qur’an kepada kaum muslimin untuk memberantas buta huruf antara lain sebagai berikut :


1)      Memberikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi kepada orang-orang yang telah pandai menulis dan membaca.


2)      Rasulullah menggunakan tenaga para tawanan perang dalam usaha pemberantasan buta huruf. Pada perang Badr al-Kubra, kaum muslimin memperoleh kemenangan. Orang-orang musyrik banyak ditawan, dan diantara para tawanan ini banyak pula yang tidak dapat menebus dirinya sendiri itu, tetapi pandai tulis baca, maka Rasulullah memberikan suatu ketentuan, bahwa tawanan-tawanan tersebut dapat dibebaskan kembali dengan syarat masing-masing telah berhasil mengajar sampai pandai tulis baca 10 orang muslim.


Dengan adanya berbagai macam usaha tersebut, bertambah besarlah keinginan masyarakat muslimin untuk meperlajari tulis baca, dan semakin banyak orang yang bebas dari buta huruf. Hal ini menyebabkan bertambah banyak pula jumlah kaum muslimin yang dapat ikut serta memelihara Al-Qur’an dengan tulisan-tulisan disamping hafalan-hafalan mereka.


Pengumpulan Al-Qur’an dimasa nabi ini dinamakan : a) penghafalan, dan b) pembukuan yang pertama.



1 komentar: